Oleh: bagasuari | Januari 29, 2010

Ngelantur Malam-Malam

Pagi hari sambil sarapan: Pencet sana..pencet sini..ganti sana..ganti sini..wah, sama semua..

Sore hari sambil ngeteh: Pencet sana..pencet sini..ganti sana..ganti sini..wah, sama semua..

Tengah malem sambil nunggu mata ngantuk: Pencet sana..pencet sini..ganti sana..ganti sini..wah, sama semua..

WAAAA!!!!!!! PROGRAM TV KOK SAMA SEMUA!!!!!!!!!!!!!!

Gak percaya, ayo kita iseng bahas satu persatu..

Program berita: Berita pagi biasanya akan diulang lagi saat siang, berita siang biasanya diulang lagi saat petang/malam, berita petang/malam biasanya akan diulang lagi saat pagi. Balik lagi, deh ke siklus awal. Terus, kapan waktu terbaik nonton program berita? Menurut pengalaman saya sebagai komentator berita, waktu menonton program berita terbaik adalah tengah malam. Kita gak akan menyesal sudah melewatkan berita pagi dan gak langganan koran, soalnya, mau tidak mau, pasti akan ada rangkuman berita seharian itu dan berita yang fresh from oven dari redaksi yang baru dimunculkan saat itu. Jadi, bisa dibilang berita pagi cuma hangat, gak panas lagi, karena dah ditayangkan pada tengah malam. Lagian, hampir semua stasiun TV menyampaikan berita yang sama. Bahkan format penyampaian berita pun hampir mirip. Kalo ada berita yang beda paling cuma segmen feature aja. Berita utama bisa dipastikan sama. Bosen juga tiap hari dijejali informasi yang itu2 aja. Politisi, birokrat, dan aparat penegak hukum yang ribut sendiri. Sebenarnya siapa yang salah? Sebenarnya apa yang dicari? Uang, kekuasaan, pangkat, rasa hormat? Omong kosong! Jika aspek politis sudah masuk dalam aspek penegakan hukum, berarti sama dengan menyuruh Themis membuka penutup matanya dan menutup mata hatinya. Dan yang pasti, rakyat lagi yang akan jadi korbannya. Lihat saja, berita masyarakat miskin yang hampir mati gara2 kelaparan dan sakit menahun karena tak punya uang untuk berobat disandingkan dengan berita para pejabat yang dapat tambahan fasilitas dan tunjangan yang bahkan hasil kinerjanya saja belum terlihat. Miris. Ironi sebuah Negara dunia ketiga.

Program infotainment: Fatwa NU manjur juga loh…dari pengamatan saya sebagai (masih) komentator berita, info2 yang dihadirkan infotainment sekarang sedikit lebih berisi daripada sebelumnya. Kalau biasanya mayoritas meliput masalah “kegoncangan rumah tangga artis” sekarang nguber “sejuta kegiatan artis (walaupun kegiatannya agak tidak penting, tapi lumayan buat tambah2 Vit.A).“

Program musik: Hampir semua stasiun TV punya program musik Indonesia. Gak tau harus senang atau malah sedih. Seneng karena music Indonesia jadi tuan rumah di negeri sendiri (bahkan di Negara lain). Sedih karena setiap hari cuma denger musik yang bergenre sama dari band2 satu album maupun penyanyi modal tampang dengan kualitas suara pas-pasan (pas sama lagunya, kalo disuruh nyanyi lagu lain, suaranya peyok >.<). Ditambah lagi, program musik di beberapa stasiun TV swasta menghalalkan lip sinc. Lebih menyedihkan lagi, kompetisi musik anak malah dihiasi anak2 yang dipaksa menyanyikan lagu2 dewasa, entah karena tak kenal lagu anak2 atau karena berfikir bahwa kalau bisa menyanyikan lagu dewasa sampai 7 oktaf ditambah vibrasi, bisa dipastikan ketika besar nanti jadi penyanyi yang berkualitas bagus dan terkenal di dunia! (padahal, anak2 itu masih harus melewati masa pubertas yang tentu akan berpengaruh pada perubahan warna suara) Karena itu, jangan salahkan saya ketika telinga yang berselera tinggi ini lebih memilih lagu2 indie dan lagu dari belahan dunia lain yang liriknya lebih berisi dan musiknya lain daripada yang lain (orang bilang aneh tapi menurut saya unik).

Program olahraga: Sepakbola is the best! Sepakbola nomor satu! Apakah olahraga di dunia ini cuma satu? Kalo alasannya karena acara sepakbola yang paling bisa menarik keuntungan paling banyak dibandingkan menayangkan olahraga lain, berarti stasiun TV kurang canggih dalam strategi menarik penonton! Sedikit sekali atau bahkan gak ada stasiun TV yang secara rutin menayangkan pertandingan cabang olahraga lain secara live (tayangan ulangpun gak ada, boro boro internasional, pertandingan tingkat nasional aja gak ada yang mau nayangin T.T ). Contoh yang paling membuat saya sedih ya Badmintonmania selalu kirim email ke sejumlah stasiun TV mohon2 utk menayangkan event turnamen bulutangkis yang diikuti atlet Indonesia. Lihatlah betapa gegap gempitanya penyambutan Piala Dunia di beberapa stasiun TV swasta, padahal masih pertengahan tahun lagian timnas Indonesia g main -.- ! Tapi persiapan tim Thomas-Uber Indonesia dalam perebutan Thomas-Uber Cup bulan Mei 2010 nanti hampir tidak ada gaungnya di stasiun TV manapun! Running text tentang prestasi atlet Indonesia di cabang olahraga lain pada beberapa program berita olahraga di beberapa stasiun TV bahkan jarang ditampilkan (Saya salut untuk TVRI yang konsisten menayangkan program berita olahraga yang menampilkan prestasi atlet2 Indonesia dari berbagai cabang oleahraga). Bukan berarti saya benci sepakbola. Saya selalu nonton acara TV live timnas Indonesia, saya dukung mereka kalah atau menang. Tapi mbok yao, media elektronik ikut andil dalam memajukan cabang olahraga lain di Indonesia.

Fiuh…dah ngantuk neh..segini dulu aja deh ngelanturnya. Tulisan di atasjuga boleh dikomentarin lagi kok, karena pasti ada dari para pembaca sekalian yang pro/kontra. Pokoke gak usah terlalu dianggap serius yaa..dibawa santai aja…

n.b:Tulisan ini dibuat jam 8 malem, meski baru diposting siang hari..maklum, belum masang eternit, eh internet!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: