Oleh: bagasuari | Oktober 31, 2009

Nasib Raja Hutan Aceh

Masih membekas dalam ingatan ketika beberapa hari yang lalu saya liat berita tentang seekor harimau sumatera yang sekarat dan kakinya membusuk karena terkena jebakan dari warga. Warga berkilah harimau tersebut sering memangsa ternak mereka. Hewan yang termasuk kategori dilindungi oleh undang-undang itu didiamkan tanpa pertolongan medis modern, hanya ada tabib tradisional. Ia terlihat kurus dan sangat lemah dalam kandang besar. Warga hanya melihatnya dari luar kandang dan seperti tidak ada daya untuk menolongnya. Saya betul-betul menangis melihat keadaan harimau itu.

Bukan hanya harimau, tapi konflik antara gajah dan manusia juga sudah sering terjadi. Jika ada warga yang jadi korban, pasti hewan2 itu yang disalahkan. Ada apa dengan hutan tempat tinggal mereka hingga mereka jauh keluar dari hutan untuk mencari makan di permukiman penduduk? Hutan mereka rusak. Makanan mereka hilang. Mereka lapar dan tidak punya tempat berteduh. Insting dasar mereka menuntunnya ke tempat yang menyediakan makanan. Apakah mereka bisa disalahkan? Tidak! Seharusnya kita yang diciptakan sebagai makhluk paling sempurna di dunia, yang harusnya melindungi mereka dan tempat tinggal mereka.

Seandainya saya jadi dr. Dolittle, manusia yang bisa bicara dengan hewan, atas nama bangsa manusia, saya ingin minta maaf pada semua hewan yang pernah disakiti oleh bangsa kami.

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: